Sebagai suatu cabang ilmu, pengetahuan mengenai perencanaan wilayah dan kota terus berkembang dalam upayanya merespon berbagai persoalan pembangunan di masyarakat. Keterbaruan dalam paradigma, pendekatan, dan metodologi perencanaan menjadi kebutuhan mendasar agar solusi yang ditawarkan memang dapat mengatasi persoalan pembangunan yang semakin kompleks. Populasi dunia yang terus bertambah, teknologi yang semakin canggih, dan sumber daya alam yang semakin menipis, sementara suhu bumi semakin memanas dapat menghasilkan berbagai kombinasi persoalan yang sulit diantisipasi karena sifanya yang VUCA; labil (volatile), tidak menentu (uncertainty), kompleks (complexity), dan tidak jelas (ambiguity). HAS dalam contemporaryplanning.org merupakan wadah inkubasi berbagai percobaan pendekatan perencanaan untuk mengatasi berbagai tuntutan masalah pembangunan, khususnya yang terjadi di Indonesia.
Perencaaan harus secara inklusif menyertakan nilai-nilai kemanusiaan, mengeksplorasi pendekatan keruangan berskala jangkauan manusia (human-scale development) yang berangkat dari teori dasar ekistic, pendekatan yang berpusat kepada manusia (people-centered development) yang berangkat dari teori dasar life-world, dan untuk peradaban manusia (civilization) berangkat dari teori life-being. Humanity juga tidak dapat dilepaskan dari budaya dimana manusia tersebut lahir, tumbuh, dan berkehidupan sampai pada bagian tertentu menjadi actor yang menentukan arah budaya tersebut. Percampuran budaya tidak dapat terlelakan dengan semakin mengglobalnya dunia dan canggihnya teknologi informasi dan komunikasi. Humanity juga bicara hak-hak asasi manusia terhadap ruang, termasuk hak masyarakat adat. Dengan ketradisionalan sistem nilai mereka, bukan berarti mereka tidak mendapatkan tempat yang paling strategis dalam pola pembangunan kemasyarakatan. Perencanaan tidak dapat dilakukan pada proses tertutup (studio) dan di lahan yang kosong nilai (nir-value). Perencanaan harus dapat memanfaatkan keunggulan budaya tersebut untuk dapat menciptakan ruang yang lebih berbudaya dan memanusiakan warganya. Model perencanaan harus dapat berlangsung pada sistem dan konteks budaya setempat tanpa mengabaikan keterkaitannya dengan dunia luar. Perencanaan harus bisa menjadi alat komunikasi dan menterjemahkan Bahasa teknis pembangunan kepada Bahasa sehari-hari masyarkaat, agar masyarakat merasa memiliki produk perencanaan tersebut, dan terlibat aktif dalam proses perencanaannya. Itulah hakikat perencanaan yang mengutamakan nilai kemanusiaan didalamnya.
Perencanaan harus mampu memberikan wadah untuk bertemunya kemajuan teknologi dengan tantangan perubahan dimana kita berada, baik perubahan yang perlahan (slow onset) maupun perubahan yang cepat (rapid changes). Baik yang sifatnya alamiah (iklim, air, dll), ekonomi (Krisis global), sosial (kerusuhan), maupun tekonologi. Kemampuan adaptasi akan berpusat pada bagaimana proses interaksi dengan perubahan tersebut. Adaptasi dengan lingkungan bicara hal-hal yang terkait dengan ancaman degradasi lingkungan, pencemaran, perubahan iklim, kebencanaan, dll, maupun peluang perbaikan lansekap, dll. Adaptasi dengan perubahan sosial budaya, termasuk generasi z (inter-generational theory) . Adaptasi dengan perubahan teknologi, termasuk dengan pola pergerakan manusia Adaptasi dengan perubahan ekonomi, termasuk dengan berkembangan ekonomi e-commerce.
Perencanaan yang berlekanjutan bicara bagaimana perubahan iklim dan lingkungan alam bisa menjadi bagian penting dalam mengantisipasi ketidakpastian masa depan bumi. Sustainability, akan berbicara mengenai keseimbangan kepentingan ekomnomi sosial lingkungan untuk generasi yang akan datang. Dengan kerangka SDG – Stockholm institute, perencanaan harus bisa mengawal proses pembangunan mencapai tujuan-tujuan pembangunan tersebut. Sustainability juga bicara mengenai sisi ekonomi seperti kemiskinan yang structural, bagaimana mewujudkan wilayah dan kota yang layak huni, inklusif, serta berketahanan secara ekonomi untuk masa depan. Sustainability juga bicara politik dan tata kelola pembangunan. Dengan ketiga sistem nilai tersebut, pengembangan model perencanaan kontemporer akan memiliki koridor yang efektif dalam memastikan perubahan yang terjadi tidak berdampak negatif bagi peradaban manusia.
Hendricus Andy Simarmata adalah seorang perencana perkotaan yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam riset, konsultasi, dan advokasi di bidang pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Beliau memperoleh gelar Dr.Phil (Ph.D.) dalam Studi Pembangunan dari salah satu universitas riset terkemuka di Jerman, yaitu Universitas Bonn pada bulan Agustus 2015. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Andy Simarmata telah menjabat sebagai dosen di Program Pascasarjana Studi Pembangunan Perkotaan dan Program Magister Perencanaan Perkotaan dan Regional, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.
Beliau juga merupakan pendiri/prinsipal dari tim konsultasi HAS dan tim penasihat NUA untuk membantu lembaga pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat membangun jalur keberlanjutan. Sejak November 2019, beliau telah menjabat sebagai Presiden Asosiasi Perencana Perkotaan dan Regional Indonesia (IAP) dan sejak Mei 2020 beliau telah terpilih sebagai salah satu anggota ISOCARP Scientific Committee.