HAS Consulting

Pembahasan Hierarki Perencanaan dan Ruang Lingkup dalam Penyusunan Naskah Awal RIPPARNAS Tahun 2026-2045

Era disruptif dan VUCA menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan kepariwisataan dalam kerangka RIPPARNAS. VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) merupakan era dimana perubahan terjadi dengan sangat cepat dan tidak terduga sehingga menuntut peningkatan kemampuan adaptasi merencana dan perencana. Volatilitas merupakan situasi yang tidak diharapkan terjaadi, tidak stabil, dan tidak diketahui lama kejadiannya tetapi tersedia informasi terkait, contohnya adalah transformasi digital dan krisis ekonomi. Ketidakpastian merupakan situasi dimana permasalahan sudah diketahui tetapi informasi yang tersedia masih sedikit, contohnya outbreak DBD dan disrupsi inovasi. Ambiguitas merupakan situasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan belum dietahui penyebabnya, contohnya pandemi COVID-19. Kompleksitas merupakan situasi yang memiliki banyak faktor yang saling terkait dan tidak cukup informasi untuk menguraikannya, contohnya urbanisasi dan perubahan iklim.

Global trend merupakan perkembangan atau perubahan situasi yang berdampak kepada seluruh negara di dunia yang menjadi tantangan tersendiri untuk mengelola demand di masa depan. Contoh global trend yang akan terjadi pada tahun 2035-2039 adalah ekonomi sirkular, cyber community, dan automobile. Disruptif events menuntut keangka perencanaan yang resilient dan agile. Contoh nyata yang terjadi adalah pandemi COVI-19 yang berdampak bagi pariwisata, contohnya pada tahun 2020 menurunnya jumlah penerbangan 80%, tahun 2021 menurunnyasektor pariwisata sebanyak 20-30%, dan setelah tahun 2021 yang cenderung mengarah ke ocean/blue economy. Disrupsi juga terjadi pada teknologi yang mempengaruhi pekerjaan, mobilitas, dan kehidupan di masa depan. Selain itu, masalah perubahan iklim juga menuntut adanya sinkronisasi perencanaan pariwisata dengan skenario perubahan iklim serta para pelaku industri wisata terlibat aktif dalam pengendalian perubahan iklim. Hal tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan desain destinasi dan industri pariwisata yang rendah karbon dan climate-resilient atau pariwisata hijau.

RIPPARNAS (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional) merupakan bagian dari dokumen perencanaan nasional yang berlandaskan RPJPN, RTRWN, dan RPPLHN. RIPPARNAS termasuk ke dalam perencanaan sektoral ekonomi. Perbedaan jangka waktu antar berbagai perencanaan diperlukan adanya sinkronisasi waktu perencanaan. Tahun 2025 dapat dimanfaatkan sebagai waktu awal untuk mengkonsolidasikan antara RPJP, RTRW, RPJM, dan berbagai jenis rencana sektor yang ada, termasuk pariwisata.

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang termasuk ke dalam pilar pembangunan ekonomi maju dan berkelanjutan. Selain itu juga berkontribusi dalam visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dengan mengembangkan pariwisata bahari yang berkelanjutan dengan memperhatikan
kepentingan masyarakat lokal, kearifan tradisional, kawasan konservasi perairan, dan kelestarian lingkungan.

Dalam menyusun kerangka RIPPARNAS yang lebih fungsional, terdapat beberapa poin penting yaitu:
1. Pengembangan destinasi wisata berbasis skenario dan placemaking
2. Pemasaran wisata menggunakan digital marketing dan memahami perilaku wisatawan
3. Peran Kementerian Pariwisata dalam menyusun dan menetapkan rule of game dan membangun standardisasi proses dan produk

Era disruptif dan VUCA menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan kepariwisataan dalam kerangka RIPPARNAS. VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) merupakan era dimana perubahan terjadi dengan sangat cepat dan tidak terduga sehingga menuntut peningkatan kemampuan adaptasi merencana dan perencana. Volatilitas merupakan situasi yang tidak diharapkan terjaadi, tidak stabil, dan tidak diketahui lama kejadiannya tetapi tersedia informasi terkait, contohnya adalah transformasi digital dan krisis ekonomi. Ketidakpastian merupakan situasi dimana permasalahan sudah diketahui tetapi informasi yang tersedia masih sedikit, contohnya outbreak DBD dan disrupsi inovasi. Ambiguitas merupakan situasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan belum dietahui penyebabnya, contohnya pandemi COVID-19. Kompleksitas merupakan situasi yang memiliki banyak faktor yang saling terkait dan tidak cukup informasi untuk menguraikannya, contohnya urbanisasi dan perubahan iklim.

Global trend merupakan perkembangan atau perubahan situasi yang berdampak kepada seluruh negara di dunia yang menjadi tantangan tersendiri untuk mengelola demand di masa depan. Contoh global trend yang akan terjadi pada tahun 2035-2039 adalah ekonomi sirkular, cyber community, dan automobile. Disruptif events menuntut keangka perencanaan yang resilient dan agile. Contoh nyata yang terjadi adalah pandemi COVI-19 yang berdampak bagi pariwisata, contohnya pada tahun 2020 menurunnya jumlah penerbangan 80%, tahun 2021 menurunnyasektor pariwisata sebanyak 20-30%, dan setelah tahun 2021 yang cenderung mengarah ke ocean/blue economy. Disrupsi juga terjadi pada teknologi yang mempengaruhi pekerjaan, mobilitas, dan kehidupan di masa depan. Selain itu, masalah perubahan iklim juga menuntut adanya sinkronisasi perencanaan pariwisata dengan skenario perubahan iklim serta para pelaku industri wisata terlibat aktif dalam pengendalian perubahan iklim. Hal tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan desain destinasi dan industri pariwisata yang rendah karbon dan climate-resilient atau pariwisata hijau.

RIPPARNAS (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional) merupakan bagian dari dokumen perencanaan nasional yang berlandaskan RPJPN, RTRWN, dan RPPLHN. RIPPARNAS termasuk ke dalam perencanaan sektoral ekonomi. Perbedaan jangka waktu antar berbagai perencanaan diperlukan adanya sinkronisasi waktu perencanaan. Tahun 2025 dapat dimanfaatkan sebagai waktu awal untuk mengkonsolidasikan antara RPJP, RTRW, RPJM, dan berbagai jenis rencana sektor yang ada, termasuk pariwisata.

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang termasuk ke dalam pilar pembangunan ekonomi maju dan berkelanjutan. Selain itu juga berkontribusi dalam visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dengan mengembangkan pariwisata bahari yang berkelanjutan dengan memperhatikan
kepentingan masyarakat lokal, kearifan tradisional, kawasan konservasi perairan, dan kelestarian lingkungan.

Dalam menyusun kerangka RIPPARNAS yang lebih fungsional, terdapat beberapa poin penting yaitu:
1. Pengembangan destinasi wisata berbasis skenario dan placemaking
2. Pemasaran wisata menggunakan digital marketing dan memahami perilaku wisatawan
3. Peran Kementerian Pariwisata dalam menyusun dan menetapkan rule of game dan membangun standardisasi proses dan produk

 

Jakarta,
22 maret 2023

Share on Social Media

Request Buku/Paper HAS

Kirim Pesan ke HAS