HAS Consulting

Seminar Nasional “Mewujudkan Kota Berketahanan dan Inklusif di Provinsi Sulawesi Selatan”

Urbanisasi bukan hanya berkembang dari adanya pertumbuhan populasi, tetapi juga interaksi antara lingkungan perkotaan dan inovasi teknologi. Kepadatan kota menjadi hal yang penting dipertimbangkan dalam perhitungan urban risks. Pemetaan multi-risiko mempertimbangkan aspek yang dipicu oleh alam dan buatan manusia. Analisis terhadap bahaya, kerentanan perkotaan, dan kapasitas sistem perkotaan akan menghasilkan Urban Risks Map

Model proyeksi merupakan kunci dari adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Contoh kasus di Metropolitan Palembang, proyeksi banjir yang terjadi melebihi batas administrasi tiap kota/kabupaten sehingga dapat dilakukan pembagian risiko banjir (shared-flood risks) dan risiko infrastruktur (shared-infrastructure risks). Shared-flood risks berarti pembagian sebagian beban kerugian yang terkait dengan risiko banjir kepada pihak lain, serta tanggung jawab dan biaya untuk tindakan-tindakan untuk menghindari, mencegah, dan memitigasi risiko banjir. Shared-infrastructure risks dilakukan dengan kerjasama antar kota dalam perencanaan pengembangan permukiman dan jalan yang melewati daerah terendam didesain secara eco-road. Selain itu, pembangunan infrastruktur ketahanan kota yang tidak terpadu juga perlu dihindari.

Pemanfaatan teknologi dapat dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Smart city menjadi alat untuk menjadikan kota yang lebih inklusif dan membawa peradaban yang lebih baik. Investasi pada Sumber Daya Manusia melalui kemajuan teknologi digital menciptakan kota lebih layak huni dan berkelanjutan.

Share on Social Media

Request Buku/Paper HAS

Kirim Pesan ke HAS