Kawasan Belawan Medan dari perspektif Krono-Spasial secara geografis memiliki DNA tempat lalu lintas air karena merupakan hilir dari 2 sungai besar, merupakan wilayah yang terbentuk akibat endapan dari sungai dan anak sungai. Mangrove dapat ditemukan di sepanjang sungai dan di kawasan pesisir. Pola sungai berupa dendritik, yang bermuara di laut. Wilayah budidaya (permukiman, tambak, industri/pergudangan) berada di wilayah yang relatif lebih tinggi dan sebagian kecil berada di wilayah yang peruntukannya adalah “rumah air”. Untuk kawasan Pelabuhan Belawan merupakan reklamasi laut. Pembangunan infrastruktur dibangun dan direncanakan di kawasan ini seperti jaringan jalan (termasuk Jalan Tol) dan Kawasan Pelabuhan direncanakan di kawasan ini. Terdapat sejumlah wilayah evakuasi bencana dan infrastruktur perkotaan (sumber daya air, jaringan drainase).
Memiliki problem yakni banjir rob, marine debris, dan kekumuhan. Penanganan banjir rob yang berdampak pada masyarakat yang bermukim di Kawasan tersebut perlu mempertimbangkan aspek “DNA” Kawasan tersebut. Jumlah penduduk Belawan Medan adalah 108.987 jiwa dengan kepadatan 4.995 jiwa/km2. Pada bulan Agustus 2022 di Kecamatan Medan Belawan terdapat 550 anak stunting dan 20% anak berusia 2 tahun. Penurunan Kualitas Lingkungan hunian masyarakat yang terdampak banjir Rob Belawan meliputi aspek bangunan gedung, jalan lingkungan, kebutuhan air minum, drainase lingkungan, pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan dan proteksi kebakaran.
Dampak Banjir yakni 1-2 meter ketinggian banjir, ± 1000an bangunan terendam dan 34.633 jiwa terdampak banjir. Kerugian finansial senilai rata-rata sebesar Rp 2.340.563/KK/tahun. Biaya dikeluarkan untuk memperbaiki rumah, memperbaiki peralatan rumah tangga, biaya berobat. Penyakit yang biasanya dialami oleh masyarakat diantaranya, diare, penyakit kulit, tipus, demam berdarah, dan malaria (Pemkot Medan, 2022).
Untuk mitigasi dan adaptasi yakni dengan menerapkan konsep Water Sensitive City (Makro), Water Sensitive Urban Design (Meso), dan Water Sensitive Detailed Engineering Design (Mikro) untuk mencapai tujuan:
- Zero Victim
- Zero Runoff
- Zero Waste
- Zero Drowned/Abandoned House.
Water Sensitive Urban Design (WSUD) merupakan salah satu bagian dari konsep pendekatan perencanaan dan perancangan kota yang berhubungan dengan sumber air dan manajemen lingkungan serta meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh keberadaan air di permukaan perkotaan. Konsep ini menitikberatkan pada manajemen keberlanjutan siklus air di kota. WSUD dapat diterapkan dari level individual (housing), lingkungan (neighborhood), hingga skala kota. Dalam skala individu atau rumah tangga, pengelolaan air yang efektif dapat berupa green roof rainwater tank. Sedangkan dalam skala lingkungan, penerapan pengelolaan air dapat berupa rain garden atau permeable surfaces. Sementara untuk skala kota, pemanfaatan dan penyediaan air yang efektif dapat dilakukan melalui pengembangan urban wetland atau sediment pond.
Koridor hijau dan biru di Kecamatan Medan Belawan merupakan komponen esensial karena program perencanaan water sensitive city. Kendati demikian, sebagian besar tutupan lahan di kecamatan ini adalah Perumahan dengan kawasan tersebut mengelilingi sebagian besar koridor biru di sebelah timur, koridor hijau dan biru terputus oleh kawasan perumahan. Konsentrasi koridor hijau dan biru yang terkoneksi langsung tertinggi di sebelah barat.
Melalui rencana pembuatan Tanggul Rob oleh SDA Kementerian PUPR dan didukung oleh usulan perancangan elevated road dengan looping system pada Kawasan Belawan Bahagia maupun Kawasan Belawan Bahari guna meningkatkan integrasi antar area, demi efisiensi aksesibilitas evakuasi bencana banjir. Skenario aliran luapan air akan optimal diarahkan ke area mangrove. Selain itu usulan pembangunan akses jembatan juga turut serta mengoptimalkan aksesibilitas evakuasi antar kedua Kawasan menjadi lebih efisien. Adapun fungsi tambahan jembatan selain sebagai konektivitas, yaitu sebagai floating public space warga setempat.
Pembangunan tanggul sebagai pengaman banjir dan juga sebagai fasilitas jalur mitigasi bencana diberikan konsep nature based solution dengan menambahkan area hijau sebagai penyerap air dan juga menurunkan tinggi air jika meluap. Pada sisi tanggul diberikan deck dengan fungsi selain sebagai area mitigasi bencana atau emergency, dapat juga sebagai area rekreasi. Tumbuhan di sisi dinding tanggul dan jalan lingkungan diberikan juga tanaman dan penghijauan. Akses dari jalan lingkungan atau permukiman menuju tanggul diberikan akses tangga kuat dan aman, juga ramp, sebagai akses langsung warga.


