Jakarta, 6 Juni 2024 – Perwakilan HAS Associate berkesempatan untuk menghadiri workshop atas undangan dari Urban and Regional Development Institute (URDI). URDI bekerja sama dengan University of Twente dalam proyek IDEAtlas menyelenggarakan workshop Jakarta Living Lab Seri 2 dimana DKI Jakarta menjadi 1 dari 8 kota yang menjadi kota-kota percobaan awal untuk adopsi proyek IDEAtlas. Proyek ini memungkinkan para peserta berinteraksi dan menyampaikan umpan balik bagi proyek yang sedang dilakukan terutama dalam bidang geografi serta perencanaan wilayah dan kota.
Pertumbuhan populasi di dunia yang terus meningkat menyebabkan juga tingkat urbanisasi yang tinggi pada perkotaan, hal ini menyebabkan proporsi masyarakat tinggal lebih dari 65% hidup di perkotaan dan seperempatnya berada di slum areas (informal built-up). Jika menilik SDGS – Tujuan 11 visi global mengamanatkan untuk kota dapat menyediakan permukiman yang inklusif, tangguh dan berkelanjutan. Namun dalam implementasinya, untuk mewujudkan tujuan tersebut masih terdapat keterbatasan alat dan data untuk memetakan permukiman informal. Sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi praktisi untuk menyelesaikan masalah ini.
IDEAtlas hadir untuk mengembangkan, menerapkan, memvalidasi, dan menampilkan metode berbasis AI yang dapat secara otomatis memetakan permukiman informal dari data Earth Observation (EO). IDEAtlas diharapkan mampu mendukung pemerintah daerah, pusat, praktisi pengembangan wilayah, serta masyarakat untuk dapat memantau kemajuan indikator SDGs mengenai proporsi penduduk perkotaan yang tinggal di daerah kumuh, permukiman informal, atau perumahan yang tidak memadai.
Workshop ini terbagi menjadi beberapa sesi yang mencakup topik-topik seperti pengembangan ide-ide awal, proses pengolahan dan pemanfaatan AI dalam pemetaan, hingga uji coba pada prototipe web portal. Dalam workshop ini pelatihan dipandu oleh Dr. Monika Kuffer beserta rekan dari Universitas Twente, Bayu Wirawan dan Jati Pratomo beserta rekan dari URDI yang secara keseluruhan memandu sesi pelatihan dan uji coba melalui metode yang interaktif.
Para peserta diberikan kesempatan memvalidasi hasil prediksi informal built-up. Apabila hasil prediksi salah, para peserta dapat mengoreksi dataset (polygon) dengan mengubah jenis lahan terbangun pada menu Classes atau menambahkan polygon jika menemukan area informal built-up. Percobaan valiadasi ini akan menjadi input bagi algoritma yang sedang dikembangkan, selanjutnya akan diimplementasikan dan diintegrasikan ke dalam sistem pemprosesan end-to-end berbasis cloud.
Sebagai penutup, para peserta memberikan feedback sebagai masukan bagi pengembangan IDEAtlas ke depannya. Hasil prediksi informal built-up masih diperlukan banyak perbaikan dengan beberapa area industri, apartemen, dan perumahan yang masih masuk kategori informal built-up. Terlebih pada lokasi di mana area-area tersebut memang berbatasan langsung dengan area informal built-up. HAS Associate mengutarakan harapan bagi rencana pola ruang dan hak kepemilikan tanah dipertimbangkan sebagai input karena kelegalan tanah menjadi salah satu syarat dalam identifikasi informal built-up. Karena apabila hanya didasarkan pada citra Sentinel 2 saja, area informal built-up memungkinkan untuk diidentifikasi dengan pendekatan densitas bangunan yang tinggi dan jaringan jalan yang tidak teratur.
Untuk informasi yang lebih lengkap pada workshop maupun rencana ke depannya dapat dilihat pada website ideatlas.eu ataupun sosial media URDI.





