Urbanisasi yang berlangsung begitu cepat berpengaruh terhadap perencanaan transportasi perkotaan. Seperti contohnya Jakarta, transportasi tidak dapat dibatasi oleh lingkup administrasi Jakarta, tetapi juga harus dapat melayani kota-kota di sekitarnya. Hal ini dikarenakan tingginya mobilitas masyarakat peri-urban Jakarta menuju CBD. Saat ini, ketergantungan masyarakat akan kendaraan pribadi masih tinggi, diperlukan struktur ruang kota yang lebih compact sehingga lebih mudah dijangkau dengan berjalan, bersepeda, dan transportasi umum.
Struktur ruang kota yang compact salah satunya dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). TOD mengedepankan kemudahan mobilitas dan keberagaman fungsi lahan. Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) merilis delapan prinsip dari TOD, yaitu walk, cycle, connect, transit, mix, densify, compact, dan shift.
Future drivers yang perlu diantisipasi di Indonesia dalam perencanaan transportasi perkotaan yang berkelanjutan diantaranya adalah:
- Work from home tren menyebabkan perubahan struktur kota, dari yang semula masyarakat peri-urban sangat bergantung dengan CBD untuk bekerja, menjadi bisa bekerja di tempat tinggalnya masing-masing.
- Struktur baru ekonomi perkotaan dengan adanya faceless economy (e-commerce).
- Teknologi transportasi baru, seperti kereta berkecepatan tinggi, autonomus vehicle, TOD, dan sebagainya.
- Arah baru pengembangan transportasi yaitu untuk meningkatkan interaksi sosial, peope oriented transportation, Climate-proofing and resilient infrastructures, dan simbol modernisasi.
- Tren masa depan dari logistik perkotaan, yaitu logistik hubs, teknologi AI untuk rute, inovasi supply chain.
Poin penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
- Hindari penyeragaman kebijakan, fokus pada integrasi transportasi multi-moda, antar wilayah, dan antar operator.
- Mengantisipasi disruptive innovation melalui penyusunan skenario mobilitas futuristik
- Mengidentifikasi area interaksi antara tata guna lahan dan transportasi di wilayah lintas batas
- Mengkontribusikan rencana mobilitas ke dalam agenda perubahan iklim untuk mendapatkan dukungan eksternal
- Berorientasi pada berbasis hasil sebagai dasar pemantauan dan evaluasi mobilitas perkotaan
- Memprioritaskan transportasi aktif dan desain universal untuk semua


