Pengembangan kawasan sekitar danau di Indonesia memerlukan pendekatan yang sensitif terhadap lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan banyak kota yang terletak di dekat badan air, menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan air dan lingkungan sekitarnya. Masalah seperti banjir, polusi air, dan degradasi ekosistem air semakin meningkat seiring dengan urbanisasi yang pesat. Menurut Dolman, et all. (2013), pembuangan limbah domestik dan industri yang tidak terkendali mencemari sungai, danau, dan waduk, mengancam kesehatan masyarakat dan ekosistem. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang komprehensif dalam mengelola sumber daya air di perkotaan.
Pendekatan Water Sensitive Urban Design (WSUD) menawarkan solusi yang dapat mengintegrasikan pengelolaan air dengan perencanaan kota. WSUD adalah pendekatan dalam perencanaan dan desain kota yang mengintegrasikan siklus air, termasuk pengelolaan air hujan, air limbah, dan sumber daya air alami, ke dalam tata kota. Prinsip utama WSUD meliputi pengelolaan air hujan di sumbernya, peningkatan kualitas air, serta konservasi dan pemulihan ekosistem air (Wong & Brown, 2009).
Urbanisasi yang cepat sering kali mengabaikan aspek keberlanjutan, terutama dalam pengelolaan air. Penelitian oleh Bach et al. (2013) menunjukkan bahwa pengelolaan air yang tidak memadai dapat menyebabkan masalah seperti banjir dan kekeringan, yang berdampak negatif pada kualitas hidup masyarakat. Dalam konteks ini, WSUD dapat berperan penting dalam mengurangi risiko tersebut dan meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim.
Penggunaan WSUD juga memiliki implikasi positif terhadap lingkungan. Chester dan Allenby (2018) menekankan pentingnya infrastruktur hijau dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan. Dengan mengadopsi WSUD, kota-kota di Indonesia dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta melestarikan sumber daya alam untuk generasi mendatang.
Isu Awal
- Banjir dan Kekeringan: Ketidakmampuan infrastruktur yang ada untuk menampung curah hujan ekstrem mengakibatkan banjir, sementara kurangnya pengelolaan air yang efektif juga menyebabkan kekeringan di musim kemarau (Van de Ven et al., 2016).
- Polusi Air: Pembuangan limbah domestik dan industri yang tidak terkendali mencemari sungai, danau, dan waduk, mengancam kesehatan masyarakat dan ekosistem (Adejumoke, 2018).
- Degradasi Ekosistem Air: Pembangunan yang tidak terkontrol merusak habitat alami dan mengganggu keseimbangan ekosistem air, yang berdampak negatif pada keanekaragaman hayati (Yohannes, et all , 2018).
Konsep Water Sensitive Urban Design (WSUD)
WSUD adalah pendekatan dalam perencanaan dan desain kota yang mengintegrasikan siklus air, termasuk pengelolaan air hujan, air limbah, dan sumber daya air alami, ke dalam tata kota. Beberapa prinsip utama WSUD meliputi:
- Pengelolaan Air Hujan di Sumbernya: Menggunakan teknologi seperti bioretensi, green roofs, dan permeable pavements untuk menangkap dan mengolah air hujan sebelum mencapai sistem saluran (Eckart et al., 2017).
- Peningkatan Kualitas Air: Memanfaatkan fitoremediasi dan wetland buatan untuk membersihkan air sebelum dilepas kembali ke lingkungan (Wong & Brown, 2009).
- Konservasi dan Pemulihan Ekosistem Air: Menjaga dan memulihkan habitat alami seperti rawa-rawa dan tepi sungai sebagai bagian dari infrastruktur hijau kota (Fletcher et al., 2015).
Implementasi Planning
HAS Consulting Group pada tahun 2019 bekerjasama dengan Pusat Riset Perkotaan Wilayah (PRPW) menyusun kajian Perancangan Kawasan Perkotaan Batulicin Ramah Air. Kajian ini merupakan salah satu upaya penting dalam mengatasi dan meminimalisir dampak bencana banjir yang kerap terjadi di Batulicin serta di wilayah Tanah Bumbu belakangan ini. Batulicin yang wilayahnya masih banyak didominasi oleh kawasan rawa dan mangrove serta berada pada endapan alluvial menjadikan wilayah tersebut sangat rentan terhadap bencana banjir. Sehingga, kondisi tersebut memerlukan rencana pengembangan atau desain perkotaan yang mampu menjaga keseimbangan neraca air serta ramah terhadap karakteristik tersebut. Salah satu bentuk upaya konservasi air adalah melalui pendekatan pembangunan berbasis Low Impact Development (LID) dengan penerapan infrastruktur hijau dan mengintegrasikan konsep pengembangan tersebut ke dalam penataan kota melalui pendekatan Water Sensitive Urban Development (WSUD). Konsep ini nantinya akan menghasilkan desain perkotaan yang ramah terhadap air melalui penerapan infrastruktur air.
Implikasi Terhadap Dunia Perencanaan
Implementasi WSUD dalam perencanaan kota-kota di Indonesia membawa berbagai implikasi positif yang signifikan. Pertama, WSUD dapat meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim dengan mengurangi risiko banjir dan kekeringan melalui pengelolaan air yang lebih baik (Bach et al., 2013). Penggunaan teknologi seperti bioretensi dan permeable pavements memungkinkan air hujan untuk diserap dan diolah di sumbernya, sehingga mengurangi beban pada sistem saluran kota.
Kedua, WSUD berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, WSUD memastikan bahwa kualitas air yang lebih baik dan ruang terbuka hijau yang lebih banyak tersedia bagi penduduk kota (Roy et al., 2008). Hal ini tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat tetapi juga menciptakan ruang publik yang lebih nyaman dan indah.
Ketiga, WSUD memainkan peran penting dalam pelestarian lingkungan. Dengan menjaga keseimbangan ekosistem air dan mengurangi dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan, WSUD membantu melestarikan keanekaragaman hayati dan memastikan bahwa sumber daya alam tetap terjaga untuk generasi mendatang (Chester & Allenby, 2019). Infrastruktur hijau seperti wetland buatan dan habitat alami lainnya menjadi bagian integral dari kota, memberikan manfaat ekologi yang signifikan.
Kesimpulan
Pendekatan Water Sensitive Urban Design (WSUD) merupakan solusi inovatif dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan pengelolaan air di kota-kota Indonesia. Dengan mengintegrasikan WSUD dalam perencanaan kota, diharapkan tercipta kota-kota yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, lebih nyaman untuk ditinggali, dan lebih lestari dari segi lingkungan. Implementasi WSUD tidak hanya membantu mengurangi risiko banjir dan kekeringan tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Selain itu, WSUD memainkan peran penting dalam pelestarian lingkungan dengan menjaga keseimbangan ekosistem air dan mengurangi dampak negatif pembangunan.
Pengembangan kawasan sekitar danau dengan pendekatan WSUD di Indonesia menuntut kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para ahli untuk menciptakan strategi yang efektif dan berkelanjutan. Dengan komitmen bersama, kota-kota di Indonesia dapat menjadi contoh bagaimana perencanaan yang sensitif terhadap air dapat membawa manfaat besar bagi masyarakat dan lingkungan. Diharapkan bahwa langkah-langkah ini akan mendorong penerapan WSUD yang lebih luas di seluruh Indonesia, menciptakan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi semua.



