HAS Consulting

Perencanaan Transit Oriented Development (TOD): Menuju Kota Masa Depan yang Efisien dan Layak Huni

Transit Oriented Development (TOD) adalah pendekatan perencanaan kota yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang terintegrasi antara transportasi publik dan penggunaan lahan. Rasionale dari TOD adalah untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan kualitas hidup dengan menciptakan area yang lebih dapat diakses dan layak huni, serta mempromosikan pertumbuhan ekonomi melalui aksesibilitas yang lebih baik.

Menurut Hrelja et al. (2020), TOD berkontribusi pada pengurangan kemacetan lalu lintas dan meningkatkan penggunaan transportasi publik melalui pengembangan area dengan kepadatan tinggi dan penggunaan campuran dalam jarak berjalan kaki dari stasiun transit. Bertolini et al. (2005), dalam bukunya yang berjudul “Cities on Rails: The Redevelopment of Railway Stations and Their Surroundings” menunjukkan bahwa TOD mampu menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan dengan mengurangi kebutuhan akan perjalanan jarak jauh dan mendukung pola perjalanan yang lebih ramah lingkungan.

Penelitian oleh Dittmar dan Ohland (2004) juga menggarisbawahi bahwa TOD dapat meningkatkan kualitas hidup dengan menyediakan akses mudah ke fasilitas publik, ruang terbuka, dan perumahan yang terjangkau. TOD memungkinkan pengembangan area yang lebih beragam dan inklusif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.

Isu Awal

  1. Kemacetan Lalu Lintas: Kemacetan lalu lintas menjadi masalah utama di kota besar dan metropolitan. Menurut data Tomtom Traffic Index (2023), Jakarta berada pada peringkat 30 dunia dalam tingkat kemacetan, rata-rata warga Jakarta menghabiskan sekitar 117 jam per tahun terjebak dalam kemacetan, mengeluarkan emisi CO2 sebesar 270 Kg setiap tahunnya.
  2. Keterbatasan Infrastruktur Transportasi Publik: Infrastruktur transportasi publik yang tidak memadai menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengguna. Dikutip dari kumparan.com, pada tahun 2023, modal share angkutan umum di Jakarta hanya mencapai 21,7 %. Sementara itu, total seluruh perjalanan orang-orang di Jakarta mencapai 26.424.851. Dari total angka tersebut, hanya 20.689.139 atau 78,3 % di antaranya memilih membawa kendaraan pribadi di Jakarta.
  3. Fragmentasi Tata Guna Lahan: Penggunaan lahan yang tidak terintegrasi dengan sistem transportasi menyebabkan inefisiensi. Studi oleh Arif & Manullang (2017) menunjukkan bahwa ketidakselarasan antara tata guna lahan dan transportasi di Jakarta menyebabkan perjalanan rata-rata penduduk menjadi lebih panjang dan waktu tempuh lebih lama.
  4. Kualitas Hidup Rendah di Area Transit: Area di sekitar stasiun transit sering kali kurang diperhatikan dari segi kelayakhunian dan kenyamanan. Menurut penelitian oleh The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP, 2017), banyak stasiun transit di Jakarta yang tidak memiliki fasilitas pejalan kaki yang memadai dan ruang terbuka publik.

Implikasi Perencanaan

  1. Konektivitas Inter-Moda: Mengembangkan konektivitas antar moda transportasi untuk memastikan peralihan yang mudah dan efisien antara berbagai jenis transportasi. Menurut Cervero (2001), inter-modal connectivity adalah kunci untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
  2. Pengembangan Infrastruktur Transportasi Publik: Investasi pada infrastruktur transportasi publik untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan. Sebagaimana dinyatakan oleh Litman (2009), pengembangan infrastruktur transportasi publik dapat mengurangi kemacetan lalu lintas dan memberikan alternatif yang lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat.
  3. Integrasi Tata Guna Lahan dan Transportasi: Perencanaan tata guna lahan yang terintegrasi dengan sistem transportasi untuk mengurangi jarak perjalanan dan meningkatkan efisiensi. Bertolini dan Spit (1998) menekankan bahwa integrasi antara tata guna lahan dan transportasi adalah fundamental untuk menciptakan kota yang berkelanjutan dan efisien.
  4. Peningkatan Kelayakhunian: Meningkatkan kualitas lingkungan hidup di sekitar stasiun transit melalui pengembangan fasilitas umum, ruang terbuka, dan perumahan yang terjangkau. Penelitian oleh Ewing dan Cervero (2010) menunjukkan bahwa lingkungan yang didesain dengan baik dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.

Konsep

Berdasarkan hal tersebut, kami mencoba mengembangkan konsep untuk penerapan perencanaan Transit Oriented Development (TOD) dengan beberapa prinsip sebagai berikut:

  1. Pengembangan Penggunaan Campuran: Pengembangan area yang mencakup berbagai jenis penggunaan lahan seperti perumahan, komersial, dan rekreasi dalam satu kawasan untuk menciptakan lingkungan yang dinamis.
  2. Desain Berorientasi Pejalan Kaki: Desain yang mendukung pejalan kaki dengan menyediakan trotoar yang lebar, jalur sepeda, dan akses yang mudah ke transportasi publik.
  3. Pengembangan Kepadatan Tinggi: Mengembangkan area dengan kepadatan tinggi di sekitar stasiun transit untuk memaksimalkan penggunaan lahan dan mengurangi jarak perjalanan.
  4. Infrastruktur Hijau: Implementasi infrastruktur hijau seperti taman, taman atap, dan area hijau untuk meningkatkan kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Studi Kasus 1: MRT Jakarta

Pada tahun 2017, HAS Consulting Group bekerjasama dengan Royal Haskoning untuk mengembangkan skenario pembangunan dan implikasi perencanaan MRT Jakarta. Studi ini bertujuan untuk meningkatkan mobilitas dan mengurangi kemacetan di ibu kota. Jalur MRT Jakarta mencakup dua kotamadya (Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan) dan enam kecamatan (Menteng, Tanah Abang, Setiabudi, Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, dan Cilandak).

Gambar: Jalur MRT dan Zona Terdampak MRT, Sumber: HAS Consulting, 2017

Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk dimasukan ke dalam skenario pembangunan adalah sebagai berikut:

  1. Pertumbuhan Sosio-Ekonomi dan Proyeksi:
    • Pertumbuhan ekonomi dan populasi diproyeksikan menggunakan formula aritmetika, dengan asumsi bahwa tren pertumbuhan populasi setiap tahun tetap konstan. Berdasarkan data tahun 2017-2018, proyeksi ini digunakan untuk mengestimasi jumlah penumpang MRT hingga 20 tahun ke depan.
  2. Sistem Feeder:
    • Pengembangan sistem feeder yang terintegrasi dengan MRT Jakarta Line 1 untuk lima tahun ke depan. Ini mencakup sistem pembayaran e-money yang terintegrasi untuk seluruh transportasi publik di Jabodetabek, yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik.
  3. Kebijakan Tarif dan Transportasi:
    • Penetapan tarif tiket MRT yang kompetitif serta implementasi kebijakan seperti Electronic Road Pricing (ERP) di pusat kota Jakarta untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan penggunaan MRT.
  4. Infrastruktur dan Integrasi Moda Transportasi:
    • Pembangunan infrastruktur yang mendukung integrasi antara MRT, LRT, BRT Transjakarta, dan jalur komuter Jabodetabek. Integrasi ini bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas, serta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Implikasi Perencanaan

Berdasarkan hal tersebut, maka implikasi dalam perencanaan yang kami hasilkan antara lain memuat:

  • Konektivitas Inter-Moda: Pengembangan konektivitas antar moda transportasi seperti BRT, LRT, dan kereta bandara untuk memastikan peralihan yang mudah dan efisien.
  • Peningkatan Kelayakhunian: Pengembangan fasilitas umum, ruang terbuka, dan perumahan yang terjangkau di sekitar stasiun MRT untuk meningkatkan kualitas hidup dan daya tarik kawasan transit.
  • Penggunaan E-Money: Sistem pembayaran yang terintegrasi untuk seluruh moda transportasi di Jabodetabek untuk memudahkan pengguna dan meningkatkan efisiensi.
  • Kebijakan Pembatasan Kendaraan Pribadi: Implementasi kebijakan ERP di pusat kota untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan penggunaan transportasi publik.
Gambar: Skenario Pembangunan Implementasi MRT Jakarta, Sumber: HAS Consulting, 2017

Studi Kasus 2: TOD Halim

Pada tahun 2017, HAS Consulting Group bekerjasama dengan konsorsium Indonesia-Cina (KCIC) untuk mengembangkan skenario pembangunan dan implikasi perencanaan TOD Halim. Stasiun Halim adalah salah satu titik penting dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (HSR). Lokasinya yang strategis di Jakarta Timur menjadikannya sebagai pusat baru yang akan terintegrasi dengan berbagai moda transportasi lainnya seperti LRT, BRT, dan akses ke Bandara.

Gambar: TOD Halim terhadap konstelasi Regional, Sumber: HAS Consulting, 2017

Beberapa hal yang harus diperhatikan (point penting) yang dimasukan ke dalam perencanaan adalah sebagai berikut:

  1. Integrasi Multimoda Transportasi:
    • TOD Halim akan menjadi pusat pelayanan baru yang terintegrasi dengan HSR, LRT, BRT, dan Bandara, yang diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas regional.
  2. Dampak Terhadap Struktur dan Fungsi Ruang:
    • Perkembangan TOD di Halim akan menyebabkan perubahan besar dalam struktur ruang Jakarta. Akan ada densifikasi dan komersialisasi ruang di sekitar stasiun, yang sebelumnya didominasi oleh hunian berkepadatan rendah.
  3. Kebutuhan Infrastruktur Baru:
    • Untuk mendukung perkembangan TOD, diperlukan pengembangan infrastruktur baru seperti jalan arteri dan jaringan rel tambahan untuk melayani area TOD. Ini termasuk dedicated exit toll dan peningkatan jalan lokal untuk mengakomodasi peningkatan aktivitas di sekitar stasiun Halim.

Implikasi Perencanaan

Berdasarkan hal yang peru diperhatikan tersebut, maka kami menerapkan beberapa prinsip dalam perencanaan, antara lain:

  1. Peningkatan Kelayakhunian:
    • Pengembangan fasilitas umum, ruang terbuka hijau, dan perumahan yang terjangkau di sekitar stasiun TOD untuk meningkatkan kualitas hidup dan daya tarik kawasan transit.
  2. Penggunaan Lahan yang Efisien:
    • Penataan ruang yang baik dengan mengintegrasikan berbagai fungsi seperti komersial, residensial, dan fasilitas umum untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
  3. Kebijakan Transportasi dan Tata Ruang:
    • Implementasi kebijakan yang mendukung pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dan peningkatan penggunaan transportasi publik, serta revisi RTRW dan RDTR untuk mengakomodasi perkembangan TOD.
Gambar: Perubahan fungsi ruang dampak TOD Halim, Sumber: HAS Consulting, 2017

Kesimpulan

Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun MRT Jakarta dan TOD Halim menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan mobilitas, mengurangi kemacetan, dan meningkatkan kualitas hidup di ibu kota. Dengan skenario pengembangan yang terintegrasi dan dukungan kebijakan yang tepat, kedua proyek ini dapat menjadi model bagi pengembangan TOD di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

TOD merupakan solusi yang efektif untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih efisien, berkelanjutan, dan layak huni. Dengan mengintegrasikan tata guna lahan dan transportasi, TOD dapat mengurangi jarak perjalanan, meningkatkan aksesibilitas ke transportasi publik, dan mendorong penggunaan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa TOD dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan (Cervero et al., 2001).

Selain itu, TOD juga memiliki implikasi sosial yang signifikan. Pengembangan area dengan penggunaan campuran dan kepadatan tinggi di sekitar stasiun transit dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan beragam. Dengan menyediakan akses mudah ke fasilitas publik, perumahan yang terjangkau, dan ruang terbuka hijau, TOD dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat (Dittmar & Ohland, 2004). Hal ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor konstruksi, perdagangan, dan jasa.

Implementasi kebijakan yang mendukung, seperti pengembangan infrastruktur transportasi publik, penggunaan sistem pembayaran yang terintegrasi, dan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi melalui kebijakan seperti Electronic Road Pricing (ERP), sangat penting untuk keberhasilan TOD. Kebijakan ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi dan kenyamanan transportasi publik, tetapi juga akan mendorong masyarakat untuk beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik (Litman, 2009).

Pada akhirnya, pengembangan TOD di Jakarta dapat memberikan contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dan di seluruh dunia tentang bagaimana mengatasi masalah urbanisasi, kemacetan lalu lintas, dan degradasi lingkungan melalui perencanaan kota yang berkelanjutan. Dengan visi dan komitmen yang kuat dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, TOD dapat menjadi pilar penting dalam menciptakan kota yang lebih baik dan lebih layak huni bagi semua warganya.

Share on Social Media

Request Buku/Paper HAS

Kirim Pesan ke HAS