Perencanaan kota sehat menjadi semakin krusial seiring dengan laju urbanisasi yang cepat dan tantangan lingkungan yang dihadapi kota-kota di seluruh dunia. Kota yang sehat tidak hanya menawarkan kualitas hidup yang lebih baik bagi warganya, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Menurut World Health Organization (WHO), lingkungan fisik kota yang sehat mendukung kesehatan fisik dan mental warga, mengurangi risiko penyakit, dan meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi (WHO, 2016).
Urbanisasi yang cepat sering kali menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk dan tekanan pada infrastruktur kota, termasuk sistem sanitasi, transportasi, dan ruang terbuka hijau. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya ruang terbuka hijau dan polusi udara di kota-kota besar berhubungan erat dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular (Pope et al., 2019). Selain itu, akses yang terbatas terhadap sanitasi yang memadai dapat menyebabkan penyebaran penyakit yang berdampak buruk pada kesehatan masyarakat (Fewtrell & Colford, 2005).
Studi literatur menunjukkan bahwa perencanaan kota sehat dapat dicapai melalui pendekatan multifaset yang mencakup pengembangan ruang terbuka hijau, sanitasi yang memadai, sistem transportasi ramah lingkungan, orientasi pada pejalan kaki, dan penurunan emisi. Menurut Newman dan Kenworthy (2015), kota yang berkelanjutan harus mengintegrasikan transportasi publik yang efisien dengan infrastruktur pejalan kaki dan bersepeda yang baik untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Konsep pengembangan ruang terbuka hijau, seperti yang dibahas oleh Tzoulas et al. (2007), menunjukkan bahwa taman dan ruang hijau di kota-kota tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tetapi juga menyediakan tempat rekreasi yang penting bagi kesehatan mental warga. Ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kualitas udara, mengurangi suhu kota, dan menyediakan habitat bagi biodiversitas perkotaan.
Isu Awal
Kota-kota besar, khususnya di Indonesia, menghadapi tantangan besar diantaranya urbanisasi yang cepat, kualitas udara yang kurang baik, akses sanitasi yang kurang memadai, ruang terbuka hijau yang kurang, serta sistem transportasi yang tidak efisien dan ramah lingkungan berpotensi merusak kualitas hidup penduduk kota.
- Urbanisasi Cepat Urbanisasi cepat merupakan fenomena global yang juga terjadi di Indonesia, di mana kota-kota besar mengalami peningkatan populasi yang pesat. Pertumbuhan populasi ini sering kali menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk dan tekanan besar pada infrastruktur kota. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2020, sekitar 56,7% populasi Indonesia tinggal di daerah perkotaan, dan angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 66,6% pada tahun 2035 (BPS, 2020). Urbanisasi yang cepat ini menimbulkan berbagai masalah seperti kurangnya perumahan yang layak, peningkatan kemacetan lalu lintas, dan kebutuhan akan layanan publik yang mendesak.
- Kualitas Udara Kualitas udara yang buruk merupakan masalah utama di banyak kota besar di dunia, termasuk Indonesia. Polusi udara berkontribusi signifikan terhadap berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Menurut laporan AirVisual, Jakarta menempati peringkat ke-126 sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, ke-3 (tiga) di Indonesia pada tahun 2019 (IQAir, 2019). Emisi dari kendaraan bermotor, industri, dan pembakaran sampah merupakan penyumbang utama polusi udara di perkotaan. Pope et al. (2019) menemukan bahwa paparan jangka panjang terhadap partikel halus (PM2.5) terkait dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung dan paru-paru.
- Sanitasi Sanitasi yang buruk merupakan tantangan serius di banyak kota di Indonesia, terutama di daerah padat penduduk. Kurangnya akses terhadap sanitasi yang layak dapat menyebabkan penyebaran penyakit menular yang mempengaruhi kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Data dari Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2020, hanya sekitar 79,53% rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak (BPS, 2020). Sanitasi yang buruk berkontribusi pada tingginya angka kejadian diare, kolera, dan penyakit menular lainnya yang disebabkan oleh kontaminasi air dan lingkungan.
- Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau merupakan elemen penting dalam perencanaan kota sehat karena menyediakan banyak manfaat bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sayangnya, banyak kota di Indonesia masih kekurangan ruang terbuka hijau yang memadai. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta hanya memiliki sekitar 7,43% ruang terbuka hijau dari total luas wilayahnya pada tahun 2020, jauh di bawah standar minimum 30% yang direkomendasikan oleh WHO. Kurangnya ruang terbuka hijau berdampak negatif pada kualitas udara, suhu kota, dan kesejahteraan mental warga.
- Transportasi Sistem transportasi yang tidak efisien dan tidak ramah lingkungan adalah masalah yang sering dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia. Ketergantungan pada kendaraan pribadi menyebabkan kemacetan lalu lintas, polusi udara, dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Menurut laporan dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), kendaraan bermotor menyumbang sekitar 75% dari total emisi karbon di wilayah Jabodetabek (BPTJ, 2019). Implementasi transportasi publik yang efisien dan ramah lingkungan menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi dampak negatif transportasi terhadap lingkungan dan kesehatan.
Konsep Perencanaan Kota Sehat
Pendekatan perencanaan kota sehat mencakup berbagai konsep yang saling terintegrasi untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan warga. Konsep-konsep ini didasarkan pada bukti ilmiah dan praktik terbaik dalam perencanaan perkotaan yang berkelanjutan.
- Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau seperti taman, hutan kota, dan jalur hijau memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan fisik dan mental warga kota. Taman dan ruang hijau menyediakan tempat untuk aktivitas fisik, rekreasi, dan interaksi sosial yang penting bagi kesejahteraan mental. Studi oleh Tzoulas et al. (2007) menunjukkan bahwa ruang hijau perkotaan juga berfungsi sebagai paru-paru kota, membantu meningkatkan kualitas udara, mengurangi suhu kota, dan menyediakan habitat bagi biodiversitas perkotaan.
- Sanitasi yang Memadai Penyediaan infrastruktur sanitasi yang baik, termasuk akses air bersih dan sistem pengolahan limbah, sangat penting untuk kesehatan warga. Sanitasi yang memadai membantu mencegah penyebaran penyakit menular yang disebabkan oleh kontaminasi air dan lingkungan. Mara et al. (2010) menekankan bahwa akses terhadap air bersih dan sistem pengolahan limbah yang efektif dapat secara signifikan mengurangi insiden penyakit menular dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
- Sistem Transportasi Ramah Lingkungan Pengembangan transportasi publik yang efisien dan ramah lingkungan, serta pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, dapat mengurangi emisi dan polusi. Newman dan Kenworthy (2015) menggarisbawahi pentingnya integrasi transportasi publik dengan infrastruktur pejalan kaki dan bersepeda untuk menciptakan kota yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Transportasi publik yang baik juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas dan meningkatkan kualitas hidup warga kota.
- Orientasi pada Pejalan Kaki Kota yang ramah bagi pejalan kaki adalah kota yang menyediakan trotoar yang nyaman dan aman, serta area bebas kendaraan. Infrastruktur yang mendukung berjalan kaki dapat mendorong warga untuk lebih aktif secara fisik, mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor, dan meningkatkan kualitas udara. Pejalan kaki yang lebih banyak juga dapat menciptakan suasana kota yang lebih hidup dan aman.
- Penurunan Emisi Implementasi teknologi ramah lingkungan dan kebijakan pengurangan emisi sangat penting untuk menjaga kualitas udara di perkotaan. Penggunaan energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, dan pengurangan emisi dari transportasi dan industri dapat membantu mengurangi polusi udara dan dampak perubahan iklim. Kebijakan yang mendukung penurunan emisi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan jangka panjang.
Implikasi Perencanaan
Perencanaan kota sehat memiliki implikasi yang luas terhadap berbagai aspek kehidupan perkotaan. Implikasi ini mencakup dampak pada kesehatan masyarakat, lingkungan, ekonomi, dan sosial.
- Kesehatan Masyarakat: Meningkatkan kualitas udara, air, dan sanitasi secara langsung berdampak positif pada kesehatan warga. Kota yang sehat dapat mengurangi insiden penyakit menular, penyakit pernapasan, dan masalah kesehatan mental. Dengan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, warga kota dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik dan memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Hal ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan yang sehat dapat meningkatkan harapan hidup dan mengurangi biaya kesehatan masyarakat (Pope et al., 2019).
- Lingkungan: Pengurangan emisi dan peningkatan ruang terbuka hijau berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Kota yang lebih hijau dan bersih dapat mendukung keberlanjutan ekosistem perkotaan dan mengurangi dampak negatif terhadap perubahan iklim. Peningkatan ruang hijau juga membantu menjaga biodiversitas dan mengurangi efek urban heat island, yang merupakan peningkatan suhu di area perkotaan dibandingkan dengan daerah sekitarnya (Tzoulas et al., 2007).
- Ekonomi: Kota yang sehat menarik lebih banyak investasi dan pariwisata, serta mengurangi biaya kesehatan. Lingkungan perkotaan yang bersih dan sehat dapat meningkatkan produktivitas ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya tarik kota sebagai tempat tinggal dan berbisnis. Kota yang ramah lingkungan juga dapat mengurangi biaya operasional melalui efisiensi energi dan pengelolaan sumber daya yang lebih baik. Studi menunjukkan bahwa kota yang menerapkan praktik berkelanjutan memiliki keunggulan kompetitif dalam menarik investasi (Newman & Kenworthy, 2015).
- Sosial: Meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga, serta menciptakan komunitas yang lebih inklusif dan kohesif. Kota yang sehat dapat mendorong partisipasi sosial, mengurangi ketimpangan, dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi semua warga. Dengan lingkungan yang mendukung interaksi sosial dan aktivitas fisik, kota dapat menjadi tempat yang lebih menyenangkan untuk ditinggali. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan perkotaan yang mendukung kesehatan fisik dan mental dapat meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi warga (WHO, 2016).
Studi Kasus: Metropolitan Tangerang Raya
HAS Consulting Group telah melakukan berbagai kajian mengenai perencanaan kota sehat di beberapa kota di Indonesia. Salah satu contoh adalah penerapan konsep Low Emission Zone (LEZ) di Kota Tangerang, Alam Sutera, dan penerapan konsep Pedestrian Oriented Development (POD) di Kota Tangerang Selatan, tepatnya di Bintaro Creative District serta West Bintaro. Penelitian yang dilakukan oleh HAS Consulting Group di Metropolitan Tangerang tahun 2023 ini mengkaji bagaimana implementasi praktis dari konsep ini dapat meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat di wilayah tersebut.
- Alam Sutera: Kawasan Alam Sutera terletak strategis di dekat kota metropolitan seperti DKI Jakarta dan Kota Tangerang Selatan. Sekitarnya berfungsi sebagai pusat komersial dengan perkantoran, pusat perbelanjaan, sarana olahraga, dan beberapa apartemen. Meskipun memiliki orientasi yang dekat dengan jalan tol, kawasan ini belum terjangkau oleh sistem transportasi umum. Akibatnya, kawasan ini dilewati sekitar 15.000 unit kendaraan per hari, menghasilkan sekitar 8.000 ton CO² per tahun. Dengan melakukan simulasi dan menghitung gap yang didapat dari kondisi sebelum dan sesudah, maka diketahui bahwa penerapan LEZ di Alam Sutera menunjukkan potensi pengurangan emisi sebesar 45,5%, dengan peningkatan valuasi ekonomi melalui jasa penyerap karbon senilai 3,5 triliun dan wisata senilai 3,9 triliun per tahun.

- Bintaro Creative District dan West Bintaro:
Kawasan Bintaro Creative District (BCD) terletak strategis di jalan yang menghubungkan Kota Tangerang Selatan dan DKI Jakarta, dengan berbagai aktivitas seperti perumahan, sarana pendidikan, dan komersial. Kawasan BCD dekat dengan Stasiun KRL dan Jalan Tol JORR Serpong, menjadikannya sangat aksesibel. Kawasan ini berpotensi menjadi pusat kreativitas dan hiburan didukung oleh Plaza Bintaro Jaya, Creative Box, dan Aviary Park, dengan aktivitas ekonomi meliputi retail F&B, pameran seni, dan pusat perbelanjaan. Kondisi eksisting pedestrian di kawasan ini sudah tertutupi kanopi dan memiliki jalur hijau, namun tidak ramah bagi penyandang disabilitas karena kurangnya guiding block, bollard, dan lampu lalu lintas.
Sementara itu, Kawasan West Bintaro lokasinya terhubung dengan Jalan Tol Kunciran-Parigi, JORR 2 Kunciran-Serpong, dan Tangerang-Merak, menjadikannya aksesibel terhadap wilayah Jabodetabek dan Banten. Kawasan ini Berada di pusat kota. Kawasan West Bintaro berpotensi sebagai pusat kegiatan komersial dengan dekatnya berbagai perumahan menengah ke atas, office park, pusat perbelanjaan, perhotelan, sarana olahraga, dan kesehatan. Namun, kawasan ini masih berorientasi pada akses kendaraan bermotor dengan polusi udara tinggi saat peak hour, meskipun memiliki jalur pedestrian yang perlu perbaikan agar lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Dengan melakukan simulasi dan menghitung gap yang didapat dari kondisi sebelum dan sesudah, maka diketahui bahwa Penerapan POD dapat mengurangi emisi sebesar 57%, dengan peningkatan valuasi ekonomi melalui penyerapan karbon senilai 347 miliar dan wisata senilai 71,76 miliar per tahun.


Namun, berdasarkan hasil kajian dari 3 (tiga) lokasi studi kasus tersebut, diketahui bahwa terdapat beberapa tantangan dalam mengimplementasikan penerapan konsep tersebut, seperti perubahan mindset stakeholder, resistensi terhadap perubahan, dan keterbatasan finansial. Berdasarkan kedua ke 3 (tiga) lokasi studi kasus tersebut, HAS Consulting Group merekomendasikan kebijakan yang mencakup: (1) peningkatan kesadaran akan urgensi dan manfaat jangka panjang dari konsep berbasis pejalan kaki, (2) perubahan regulasi tata ruang yang mendukung, serta (3) keterlibatan aktif pengembang dalam proses perencanaan dan implementasi.
Kesimpulan
Perencanaan kota sehat adalah pendekatan holistik yang mengintegrasikan berbagai aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih baik bagi warganya. Dengan urbanisasi yang cepat dan tantangan lingkungan yang semakin kompleks, penting bagi kota-kota di Indonesia untuk menerapkan konsep-konsep perencanaan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan warga.
Implementasi konsep-konsep seperti pengembangan ruang terbuka hijau, sistem transportasi ramah lingkungan, dan sanitasi yang memadai dapat memberikan manfaat jangka panjang yang signifikan. Ruang terbuka hijau tidak hanya menyediakan tempat untuk rekreasi dan interaksi sosial, tetapi juga membantu mengurangi polusi udara dan menurunkan suhu kota. Sistem transportasi yang ramah lingkungan mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kualitas udara, sementara sanitasi yang memadai mencegah penyebaran penyakit dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Urgensi untuk mengubah kota menjadi berbasis pejalan kaki menjadi penting dalam meminimalisir adanya dampak negatif yang dihasilkan oleh sistem transportasi yang dominan berbasis kendaraan bermotor. Hasil studi kasus yang telah dilakukan oleh HAS Consulting Group pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa implementasi konsep Pedestrian Oriented Development (POD) dan Low Emission Zone (LEZ) memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat.
Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait, perencanaan kota sehat dapat menjadi kenyataan. Kota yang direncanakan dengan baik tidak hanya meningkatkan kualitas hidup warganya, tetapi juga menarik lebih banyak investasi dan pariwisata, serta berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan global. Mewujudkan kota sehat adalah langkah penting menuju masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi semua warga kota.


