Globalisasi dan pertumbuhan ekonomi dunia yang cepat dan terus berkembang, dan perusahaan-perusahaan besar skala dunia yang sangat selektif dalam memilih wilayah dan negara mana yang akan mereka tempatkan sebagai investasi, berimplikasi pada tingginya kompetisi antarnegara dalam menciptakan lingkungan investasi yang berdaya saing dan beneficial. Hal ini perlu disikapi bagaimana Indonesia dengan segala kekayaan sumber daya alamnya dapat menjawab tantangan tersebut.
Penataan ruang wilayah nasional salah satunya bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang produktif. Penataan ruang wilayah nasional perlu mewujudkan wilayah-wilayah yang bernilai ekonomi tinggi, yang dapat membuka lapangan pekerjaan yang luas serta memberikan pendapatan yang tinggi bagi para pekerjanya, dan regulasi pemanfaatan sumber daya alam yang kuat dan berwawasan lingkungan.
Penataan ruang wilayah nasional diharapkan dapat menciptakan kawasan-kawasan strategis pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam yang mana dapat dilakukan melalui hilirisasi atau peningkatan nilai tambah, dan penciptaan industri-industri produk hilir yang bernilai tinggi dan berdaya saing. Hal ini juga perlu didukung dengan penyediaan infrastruktur dasar dan pendukung, prasarana dan sarana, fasilitas pendidikan, dan berbagai kebijakan dan regulasi yang kondusif.
STUDI KASUS: PENGEMBANGAN INDUSTRI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BERBASIS HILIRISASI DAN RANTAI PASOK
Rasionale
Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi kekayaan alam yang cukup besar di sektor batubara, bijih besi, kelapa sawit, karet, pertanian dan perikanan yang belum optimal dikembangkan. Potensi yang cukup besar tersebut dapat dioptimalkan dengan mendorong proses hilirisasi di setiap sektor yang akan berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi maupun pengurangan ketergantungan impor.
Hilirisasi industri ditujukan untuk menghasilkan keselarasan kebijakan antara perdagangan, investasi, dan industri untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pentingnya usaha dalam hilirisasi akan berdampak dalam pencapaian SDGs nomor 1 yaitu “tanpa kemiskinan” dan nomor 8 yaitu “pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi” dengan meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat lokal di Kalimantan Selatan khususnya dan Indonesia umumnya. Hilirisasi industri juga mendukung target nomor 7 yaitu “energi bersih dan terjangkau” dengan mengusulkan sumber energi terbarukan sebagai sumber kebutuhan energi perindustrian.
Skenario pembangunan hilirisasi industri di Kalimantan Selatan memperhatikan konektivitas dengan Provinsi Kalimantan Timur sebagai lokasi pembangunan ibukota negara baru (IKN) dan pembangunan Food Estate di Provinsi Kalimantan Tengah. Provinsi Kalimantan Selatan menjadi titik strategis pendukung kedua provinsi tersebut.

Isu Awal
Persoalan yang dihadapi Provinsi Kalimantan Selatan saat ini di antaranya lambannya proses perkembangan kawasan industri tersebut dan masih belum terkaitnya industri di luar kawasan. Secara faktual dan aktual, di Kalimantan Selatan konektivitas antar sektor dalam mendukung kegiatan industri belum terpetakan dengan baik. Dugaan adanya rantai yang putus antara hulu industri dan hilir industri perlu diteliti lebih rinci namun tetap komprehensif. Di sisi lain adanya potensi rantai pasok (supply chain) yang belum termanfaatkan secara optimal dan tepat guna dalam memasok bahan dasar, bahan baku, bahan penolong maupun bahan setengah jadi juga harus dicarikan solusinya.
Di lain pihak, pemerintah saat ini juga tengah berupaya meningkatkan kinerja industrialisasi mengingat industri nasional belum secara optimal memanfaatkan sumber daya yang ada (eksisting maupun potensial) dan masih bergantung pada impor, baik bahan baku dan bahan antara/pendukung industri pengolahan. Dukungan pemerintah diantaranya adalah upaya untuk menarik investasi dalam rangka industrialisasi terintegrasi hulu-hilir dan berbasis hilirisasi sumber daya alam yang dilaksanakan antara lain melalui pengembangan Kawasan Industri (KI) dan smelter, yang diharapkan akan dapat meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan impor.
Hilirisasi Industri membutuhkan dukungan rantai pasok yang kuat dan agile karena kondisi ekonomi yang cepat berubah akibat inovasi teknologi digital yang disruptif. Berbekal pembangunan infrastruktur dasar yang sudah banyak dikembangkan sebelumnya oleh Pemerintah Pusat dan daerah, maka diharapkan daya saing daerah untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi rantai pasok industri akan semakin terbuka.
Implikasi Planning
Konsep perencanaan yang digunakan adalah perencanaan stratejik dengan action-oritented. Adapun perencanaan stratejik dengan action-oriented dijabarkan ke dalam tahapan-tahapan dan analisis berdasarkan input yang ditentukan untuk menghasilkan rencana pengembangan industri berbasis hilirisasi dan rantai pasok. Analisis di antaranya adalah analisis SWOT yang menghasilkan beberapa pertimbangan pengembangan, seperti pengembangan batubara menuju industri coal-to-chemical, pengembangan bijih besi berbasis kemajuan teknologi, dan sebagainya.

Konsep
Dimulai dengan memetakan pohon industri setiap komoditas, dapat ditemukenali infrastruktur apa saja yang diperlukan, dan berdasarkan segala resources serta potensi dan capaian yang ingin ditempuh, ditentukan target produk hilir setiap komoditas serta kebutuhan bahan komplementer dan kebutuhan investasinya. Setiap komoditas kemudian dipetakan terhadap Provinsi Kalimantan Selatan sebagai peta zona pengembangan industri didukung dengan penguatan daya dukung infrastrukturnya. Zona pengembangan setiap komoditas ini juga memperhatikan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) beserta fasilitas pendidikannya, kualitas infrastruktur (transportasi darat-laut-udara, drainase, energi, telekomunikasi, dsb), dan target pasar. Strategic planning yang dilakukan diharapkan dapat mengarusutamakan dan mensinergikan kebijakan dan peraturan perizinan berusaha, menyiapkan SDM yang kompeten dan berdaya saing, mengembangkan infrastruktur, dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.



