HAS Consulting

Pengembangan Kawasan Sekitar Sungai​

Pengembangan Kawasan Sekitar Sungai​

Sungai memainkan banyak peranan penting di Indonesia. Salah satunya bagi masyarakat pesisir yang masih sangat bergantung pada keberadaan sungai dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Fungsi sungai yang sedemikian penting, seringkali terabaikan dalam merencanakan kota. Kalaupun ada, perencanaan hanya parsial menyangkut kawasan atau aspek tertentu saja. Akibatnya, perkembangan beberapa kawasan seperti bagian tepi sungai menjadi tidak terpelihara hingga menyebabkan kualitas lingkungan menurun. Tidak hanya itu, pengabaian penataan kawasan tepian sungai juga menimbulkan berkontribusi pada penurunan fungsi dan kualitas air sungai itu sendiri.

Sumber Daya Air (SDA) seharusnya dikelola secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan. Tujuannya, mewujudkan pemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan guna menjamin kemakmuran rakyat. Menyeluruh dalam hal pengembangan kawasan sekitar sungai yaitu mencakup semua bidang pengelolaan, meliputi konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air melalui satu sistem wilayah pengelolaan, yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Terpadu berarti pengelolaan yang dilaksanakan melibatkan semua pemangku kepentingan antar sektor dan antar wilayah. Berwawasan lingkungan dimana pengelolaan yang dilakukan harus memperhatikan keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan. Sedangkan berkelajutan dengan pengelolaan yang dilakukan ditujukan untuk kepentingan generasi sekarang hingga kepentingan generasi mendatang.

STUDI KASUS: PENYUSUNAN RENCANA AKSI KOLABORATIF DALAM MEWUJUDKAN SUNGAI MARTAPURA YANG BERSIH, UNGGUL DAN ASRI

Latar Belakang

Sungai Martapura merupakan salah satu pusat peradaban kehidupan masyarakat Borneo khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan. Selain berfungsi sebagai penyedia air baku, Sungai Martapura juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi air yang efektif dan bebas macet, penyedia ikan, serta tempat perdagangan terapung yang dikenal dengan Pasar Terapung (floating market). Sungai Martapura juga digunakan untuk pengairan dan irigasi sekaligus sebagai salah satu objek wisata susur sungai pilihan yang menarik perhatian para wisatawan. Seperti halnya dibeberapa sungai lainnya di Provinsi Kalimantan Selatan, Sungai Martapura saat ini memiliki kondisi lingkungan dan sosial yang tidak lagi ideal dan layak untuk dimanfaatkan bagi masyarakat setempat. Diperlukan strategi implementasi dalam perencanaan dan pengelolaan Sungai Martapura guna menentukan program-program dan sistem kelembagaan yang efektif dan efisien.

Isu Awal : Sungai Martapura telah mengalami berbagai permasalahan baik di kawasan hulu hingga hilir yang mengakibatkan peran vitalnya terganggu dan kualitasnya semakin menurun. Identifikasi permasalahan di Sungai Martapura sepanjang 95,24 km dilakukan melalui pengamatan kondisi di badan sungai, tepi sungai, dan kawasan sekitar sungai. Hilangnya sumber resapan air akibat penggundulan dan alih fungsi hutan menjadi permasalahan utama di hulu. Sumber pencemar berasal dari limbah domestik dan industri rumah tangga, aktivitas pembudidayaan Keramba Jaring Apung (KJA), serta degradasi riparian sungai. Kejadian banjir pada Januari 2021 juga membuktikan Sungai Martapura mengalami keterbatasan peran dalam hal pengendalian banjir. Melihat peran vital dan kompleksitas permasalahan di Sungai Martapura, maka diperlukan pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk mencegah, menanggulangi, serta memulihkan pencemaran melalui Program Sungai Martapura Bungas. Berfokus pada pembenahan sungai agar kembali Bersih, Unggul, dan Asri, program-program yang kami susun berupaya mengembalikan fungsi dan nilainya sebagai urat nadi pembangunan daerah di Provinsi Kalimantan Selatan.

Implikasi Planning

Pengelolaan DAS seharusnya mengacu pada One River, One Plan, dan One Management sebagai kesatuan fungsional dari hulu hingga hilir. Dilihat dari kondisi eksisting, pendekatan dalam perencanaan akan mengacu pada fungsi ekologis yang mempengaruhi kualitas sungai, pemodelan banjir untuk mengetahui kemampuan daya tampung curah hujan, Water Sensitive Urban Design (WSUD) terkait potensi sungai dan keberlanjutan siklus air di perkotaan, serta benchmarking sebagai gambaran efektivitas program pengelolaan sungai. Hasil perencanaan akan diperkuat dengan analisis karakter di setiap segmentasi sungai guna mengenali kondisi pemanfaatan sungai dan ripariannya. Terakhir, dilakukan juga analisis sosial budaya untuk mengetahui implikasinya terhadap aktivitas masyarakat pada permukiman tepi sungai, pariwisata, perikanan, pertanian, industri hingga aspek transportasi sungai. Pada awal kajian juga dilakukan pemetaan kebijakan, rencana, maupun program eksisting baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah mengetahui GAP antara kebijakan eksisting dengan dengan profil sungai eksisting terhadap kondisi idealnya sesuai benchmarking.

Konsep: Rencana Aksi Martapura Bungas

Konsep Rencana Aksi Sungai Martapura Yang Bersih, Unggul Dan Asri didasarkan pada indentifikasi fisik wilayah sungai dengan pendekatan segmentasi. Pembagian segmentasi ini adalah untuk mempermudah identifikasi masalah sehingga rencana aksi akan lebih tepat dengan mempertimbangkan kondisi fisik termasuk riparian sungai dan sosial ekonomi. Adapun penentuan segmentasi dapat berdasarkan pada:

  1. Karakteristik fisik-sosial wilayah,hal ini didasarkan pada kesamaan fisik dan sosial wilayah sungai, dimana karakter fisik dan sosial ekonomi yang sama akan membawa pressure terhadap sungai lebih homogen. Misalnya tekanan wilayah perkotaan dan perdesaan akan berbeda terhadap kualitas dan kuantitas air sungai. Wilayah sungai yang memiliki riparian dan tidak memiliki akan berbeda dalam merespon kejadian banjir
  2. Batasan administrasi, hal ini diperlukan untuk mempermudah penentuan rencana aksi berdasarkan wilayah administrasi.

Sungai Martapura sepanjang 95,24 Km dibagi ke dalam 4 segmen dengan karakteristik dan panjang sungai seperti pada gambar dibawah ini:

Segmentasi sungai kemudian dibagi ke dalam 3 tipologi yaitu Badan Sungai, Tepi Sungai dan Kawasan Sekitar Sungai. Adapun permasalahan dari tipologi ini untuk setiap segmen dijabarkan pada gambar dan tabel dibawah ini:

Konsep: Rencana Aksi Martapura Bungas

Hasil kajian akan merekomendasikan program pengelolaan Sungai Martapura yang mampu mencapai target pembangunan sesuai dengan SDGs 2030. Indikator yang menjadi acuan dalam perencanaan berkaitan dengan aspek degradasi lingkunganhunian yang layak huniperadaban budaya masyarakat, serta ekonomi berkelanjutan. Rekomendasi yang kami susun adalah mendorong pemerintah daerah Privinsi Kalimantan Selatan untuk melakukan empat langkah aksi. Aksi Pertama melalui Pemulihan Lingkungan dan Kapasitas Sungai; Aksi Kedua melalui Pemberdayaan Masyarakat, Komunitas, dan Dunia Usaha; Aksi Ketiga melalui Penciptaan Nilai Ekonomi Sungai; serta Aksi Keempat melalui Pelestarian Peradaban River Urbanism. Lebih lanjut, dalam implementasinya perlu memperhatikan strategi integrasi antara kelembagaan, masyarakat, dunia usaha, dan media massa. Terakhir yaitu mengupayakan adanya kolaborasi monitoring dan evaluasi terhadap program-program dari setiap elemen pemangku kepentingan termasuk masyarakat dan pihak swasta.

 

Share on Social Media

Request Buku/Paper HAS

Kirim Pesan ke HAS